Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Kalimantan Selatan (Kanwil DJPb Provi Kalsel) mencatat perekonomian Kalimantan Selatan tetap menunjukkan performa positif hingga April 2026. Pertumbuhan ekonomi yang solid, kinerja fiskal yang sehat, serta stabilitas inflasi menjadi indikator kuat terjaganya momentum pembangunan daerah di tengah dinamika ekonomi nasional.
Kepala Kanwil DJPb Provinsi Kalimantan Selatan, Catur Ariyanto Widodo, mengatakan capaian ekonomi regional sepanjang Triwulan I 2026 berhasil dipertahankan hingga memasuki awal kuartal II tahun ini.
“Perekonomian Kalimantan Selatan masih menunjukkan resiliensi yang sangat baik. Pertumbuhan ekonomi tetap terjaga, penyaluran belanja negara berjalan optimal, dan ruang fiskal daerah juga berada dalam kondisi sehat untuk mendukung pembangunan,” ujar Catur, Banjarmasin, Jumat (29/5/2026).
Pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan pada Triwulan I 2026 tercatat mencapai 5,67 persen secara year on year (yoy). Dari sisi pengelolaan fiskal, realisasi Belanja Negara telah mencapai Rp9,50 triliun atau sebesar 31,75 persen dari total pagu anggaran. Penyaluran terbesar berasal dari Transfer ke Daerah (TKD) yang mencapai Rp6,68 triliun.
Catur menjelaskan, kinerja APBD di Kalimantan Selatan juga mencatatkan surplus sebesar Rp993,29 miliar. Menurut Catur, kondisi tersebut menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan pembangunan daerah serta penguatan pelayanan publik.
Di sektor perdagangan luar negeri, Neraca Perdagangan Kalimantan Selatan pada April 2026 kembali mencatat surplus signifikan sebesar US$805,95 juta. Nilai ekspor mencapai US$1.059,10 juta atau tumbuh 15,1 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
“Pertumbuhan ekspor masih didorong oleh komoditas unggulan, terutama batubara yang memberikan kontribusi dominan terhadap total ekspor daerah,” katanya.
Sementara itu, nilai impor tercatat sebesar US$253,15 juta atau naik 46,06 persen secara tahunan, dipengaruhi meningkatnya impor minyak petroleum dan kenaikan harga transaksi BBM diesel.
Dari sisi harga, tekanan inflasi di Kalimantan Selatan mulai menunjukkan tren melandai. Pada April 2026, inflasi tahunan tercatat sebesar 3,67 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,75. Secara bulanan, Kalimantan Selatan bahkan mengalami deflasi sebesar 0,04 persen.
Kabupaten Tanah Laut menjadi daerah dengan tingkat inflasi tertinggi di Kalimantan Selatan sebesar 3,96 persen, sedangkan inflasi terendah tercatat di Kabupaten Kotabaru sebesar 2,90 persen.
Catur memaparkan, tekanan inflasi tahunan masih dipengaruhi oleh komoditas emas perhiasan, beras, dan ikan nila. Namun secara bulanan, penurunan harga daging ayam ras, emas perhiasan, dan terong berhasil menahan laju inflasi.
Menurutnya, berbagai langkah pengendalian inflasi terus diperkuat melalui sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di seluruh wilayah Kalimantan Selatan.
“Hingga akhir April 2026, pelaksanaan Operasi Pasar dan Gerakan Pasar Murah telah menyalurkan beras SPHP sebanyak 3,69 ribu ton. Selain itu, pemerintah daerah bersama stakeholder terkait juga terus melakukan penguatan pasokan dan distribusi pangan untuk menjaga stabilitas harga,” jelasnya.
Upaya strategis lainnya juga dilakukan melalui Gerakan Tanam Padi Serempak dan Optimasi Lahan di Kabupaten Tanah Laut dan Hulu Sungai Selatan, bantuan distribusi bahan pokok penting di kawasan Basirih, hingga penguatan Kerja Sama Antar Daerah (KAD) dan diversifikasi konsumsi pangan.
Dengan berbagai capaian tersebut, Kanwil DJPb Provinsi Kalimantan Selatan optimistis stabilitas ekonomi regional dapat terus terjaga dan menjadi modal penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan sepanjang tahun 2026. MC Kalsel/Rns












