Humas Pemerintah Dituntut Responsif Tangkal Hoaks di Era Digital

- Kontributor

Rabu, 3 Juni 2026 - 16:16 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Di tengah derasnya arus informasi digital, pemerintah daerah menghadapi tantangan yang semakin kompleks dalam mengelola komunikasi publik. Salah satu tantangan utama yang dihadapi adalah maraknya penyebaran informasi palsu atau hoaks yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dan mengganggu kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.

Hal tersebut disampaikan Konsultan Komunikasi Krisis dan Strategic Public Relations, Jojo S. Nugroho, saat menjadi narasumber pada Public Communication Summit 2026 bertema “Sinergi Pengelolaan Isu dan Reputasi di Era Digital” yang digelar di Gedung Mahligai Pancasila, Banjarmasin, Rabu (3/6/2026).

Menurut Jojo, hoaks kerap berkembang karena tidak adanya konfirmasi cepat dari pihak yang berwenang. Informasi yang keliru dan dibiarkan beredar tanpa klarifikasi berpotensi diterima masyarakat sebagai sebuah kebenaran.

“Hoaks itu muncul karena informasi tidak dikonfirmasi langsung kepada narasumber yang berwenang. Ketika sebuah kebohongan atau informasi hoaks dibiarkan, lama-kelamaan dapat dianggap sebagai sebuah kebenaran,” ujarnya.

Karena itu, ia menekankan pentingnya peran kehumasan pemerintah, baik di tingkat kabupaten/kota maupun provinsi, untuk menghadirkan informasi yang akurat, faktual, dan berkelanjutan kepada masyarakat. Langkah klarifikasi terhadap disinformasi yang beredar juga harus dilakukan secara cepat agar tidak berkembang menjadi polemik yang lebih besar.

Selain kecepatan merespons isu, Jojo menilai kompetensi praktisi humas dalam memilah informasi juga menjadi faktor penting dalam menjaga reputasi pemerintah. Menurutnya, humas harus mampu membedakan antara kritik konstruktif dari masyarakat dengan serangan yang sengaja dirancang untuk menjatuhkan citra institusi.

“Kita sering kali sulit membedakan mana kritik dari publik dan mana serangan dari buzzer. Kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap serangan sebagai kritik atau sebaliknya. Karena itu, teman-teman humas harus memiliki kompetensi untuk memilah informasi dan menentukan mana yang dapat menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah,” katanya.

Lebih lanjut, Jojo menyoroti masih adanya kesenjangan antara konten yang diproduksi pemerintah dengan kebutuhan informasi masyarakat, khususnya Generasi Z yang menjadikan media sosial sebagai sumber utama memperoleh informasi.

Ia menilai sebagian besar kanal media sosial pemerintah masih didominasi publikasi kegiatan seremonial, sementara masyarakat lebih membutuhkan informasi yang relevan dan berdampak langsung terhadap kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, media sosial pemerintah perlu dioptimalkan sebagai ruang komunikasi dua arah yang mampu menjembatani kebutuhan informasi publik. Selain menjadi sarana penyampaian informasi resmi, media sosial juga harus berfungsi sebagai wadah menampung aspirasi, masukan, dan kritik masyarakat.

“Media sosial seharusnya menjadi jembatan komunikasi yang efektif antara pemerintah dan masyarakat. Di satu sisi menjadi ruang aspirasi publik, dan di sisi lain menjadi sarana pemerintah menyampaikan informasi yang valid untuk menangkal hoaks secara berkelanjutan,” pungkasnya. MC Kalsel/Jml

sumber : diskominfomc.kalselprov.go.id

Berita Terkait

Kunjungan ke Amanah Borneo Park, Dukcapil Kalsel Jajaki Kerja Sama Pemanfaatan KIA
Tingkatkan Kapasitas Lalu Lintas, PUPR Kalsel Bangun Ulang Jembatan Cambai
Diskominfo Kalsel Fokus Sinkronisasi Kanal Resmi untuk Perkuat Komunikasi Publik
Public Communication Summit 2026, Pemprov Kalsel Perkuat Strategi Komunikasi Publik
Disdikbud Kalsel Fokus Inklusivitas dan Keberlanjutan untuk Tingkatkan Nilai IPK
Rakor Rancangan Pergub Penyelenggaraan Posyandu Wasaka 6 SPM, Ketua TP Posyandu Provinsi Kalsel Perkuat Tata Kelola Pelayanan Dasar Berbasis Keluarga dan Masyarakat
Seleksi BUMDesa Terbaik Kalsel 2026 Masuki Tahap Verifikasi, Lima Besar Segera Ditetapkan
Hingga Mei 2026, Luas Tambah Tanam Padi di Kalsel Tembus 244.873 Hektare

Berita Terkait

Rabu, 3 Juni 2026 - 16:41 WITA

Kunjungan ke Amanah Borneo Park, Dukcapil Kalsel Jajaki Kerja Sama Pemanfaatan KIA

Rabu, 3 Juni 2026 - 16:38 WITA

Tingkatkan Kapasitas Lalu Lintas, PUPR Kalsel Bangun Ulang Jembatan Cambai

Rabu, 3 Juni 2026 - 16:16 WITA

Humas Pemerintah Dituntut Responsif Tangkal Hoaks di Era Digital

Rabu, 3 Juni 2026 - 14:05 WITA

Diskominfo Kalsel Fokus Sinkronisasi Kanal Resmi untuk Perkuat Komunikasi Publik

Rabu, 3 Juni 2026 - 10:04 WITA

Public Communication Summit 2026, Pemprov Kalsel Perkuat Strategi Komunikasi Publik

Berita Terbaru