

UPTD Museum Lambung Mangkurat Provinsi Kalimantan Selatan menggelar Belajar Bersama 1 Tahun 2026 dengan tema “Bahasa Isyarat sebagai Jembatan Mengenal Koleksi Museum Lambung Mangkurat”. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai upaya memperkuat fungsi museum sebagai ruang edukasi yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas tunarungu dan tunawicara.
Kegiatan tersebut dilatarbelakangi oleh peran museum sebagai institusi yang bertugas memelihara, merawat, dan mempublikasikan koleksi sejarah, seni, serta budaya kepada masyarakat luas. Selain itu, museum juga memiliki fungsi edukatif dalam memperkenalkan nilai-nilai sejarah dan kebudayaan daerah kepada generasi muda.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Selatan, Edy Suwarto, menegaskan bahwa museum saat ini harus bertransformasi menjadi ruang yang lebih inklusif dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Menurutnya, museum tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda bersejarah, tetapi juga harus mampu menjadi pusat edukasi, kolaborasi, dan penguatan karakter generasi muda agar lebih mencintai budaya dan memiliki jiwa nasionalisme.
Ia mengapresiasi pelaksanaan kegiatan “Belajar Bersama 1” karena dinilai menjadi langkah nyata dalam mendukung pemajuan kebudayaan di Kalimantan Selatan.
“Berdasarkan data Indeks Pembangunan Kebudayaan (IPK), Kalimantan Selatan mengalami penurunan pada unsur ekspresi budaya dan pendidikan. Karena itu, kegiatan edukatif dan inklusif seperti ini sangat strategis untuk meningkatkan capaian pembangunan kebudayaan daerah,” ujar Edy, Rabu (13/5/2026).
Edy mendorong Museum Lambung Mangkurat untuk terus berinovasi dan meninggalkan pola kerja business as usual. Menurutnya, museum harus mampu menghadirkan program-program kreatif, kolaboratif, dan berpihak kepada masyarakat agar dapat berkembang lebih maju.
“Kita harus menciptakan sesuatu yang baru, lebih inovatif, inklusif, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Kepala UPTD Museum Lambung Mangkurat, Ady Surya, mengatakan pihaknya berkomitmen menjadikan museum sebagai ruang inklusif yang terbuka bagi seluruh masyarakat dan komunitas kebudayaan.
Menurutnya, konsep kegiatan inklusif sangat sejalan dengan arah pengembangan museum ke depan. Museum Lambung Mangkurat diharapkan tidak hanya menjadi tempat penyimpanan benda bersejarah, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi bagi para pegiat budaya, khususnya di wilayah Banjarbaru dan sekitarnya.
“Kegiatan seperti ini sangat baik karena memberikan ruang bagi seluruh lapisan masyarakat untuk terlibat dalam aktivitas kebudayaan,” ujarnya.
Ady juga mengungkapkan bahwa Museum Lambung Mangkurat masih menghadapi keterbatasan sumber daya manusia, khususnya pamong budaya yang menjadi ujung tombak pelayanan dan edukasi museum. Ia berharap ke depan ada penambahan tenaga pamong budaya guna mendukung peningkatan layanan museum. MC Kalsel/Jml












