Program Hortikultura 2026, DPKP Kalsel Fokus Komoditas Pengendali Inflasi

- Kontributor

Selasa, 3 Februari 2026 - 09:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi Kalimantan Selatan melakukan penyesuaian program dan kegiatan Bidang Hortikultura pada tahun 2026 seiring kebijakan pemangkasan anggaran dan sinkronisasi dengan program dan kegiatan pemerintah pusat.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kalsel, Syamsir Rahman melalui Kepala Bidang Hortikultura, Amir Sahlan, mengatakan bahwa secara prinsip program hortikultura tahun 2026 tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya karena menyesuaikan arah kebijakan nasional serta keterbatasan fiskal daerah.

“Program dan kegiatan hortikultura tahun 2026 menyesuaikan dengan kegiatan di pusat, di samping adanya pemangkasan anggaran,” ujar Amir Sahlan di ruang kerjanya, Banjarbaru, Selasa (3/2/2026). 

Ia menjelaskan, meskipun terjadi pengurangan anggaran hingga sekitar 50 persen dibandingkan tahun 2025, DPKP Kalsel tetap memprioritaskan pengembangan komoditas strategis, khususnya hortikultura yang berpengaruh terhadap pengendalian inflasi daerah.

Komoditas sayuran yang menjadi fokus utama meliputi cabai besar, cabai rawit, serta bawang merah, sementara untuk tanaman buah masih difokuskan pada buah unggukan yaitu pisang, durian, dan jeruk. Selain itu, pengembangan tanaman obat dan tanaman hias tetap menjadi bagian dari perhatian Bidang Hortikultura.

“Karena anggaran berkurang, volume bantuan akhirnya kami turunkan. Contohnya untuk bawang merah, yang sebelumnya untuk kebutuhan satu hektare diperlukan satu ton bibit bawang merah, namun  kini kami siasati menjadi setengahnya saja yaitu 500 kg per hektare. Namun kami pastikan petani tetap mendapatkan dukungan,” jelasnya.

Amir menegaskan, keterbatasan anggaran tidak mengurangi semangat jajaran DPKP Kalsel dalam mengawal pembangunan hortikultura, baik tanaman sayur, buah-buahan, maupun tanaman hias di Kalimantan Selatan.

Selain itu, DPKP Kalsel juga merencanakan pengembangan tanaman hias melati yang selama ini secara swadaya dikembangkan masyarakat di Kabupaten Banjar dengan luasan yang terbatas.  Program tersebut direncanakan akan diangkat lebih optimal pada tahun 2027.

“Kami melihat potensi melati di Kabupaten Banjar cukup besar, namun selama ini masih swadaya. Ke depan, kami upayakan untuk dikembangkan lebih luas,” tuturnya.

Dalam rangka mendukung pengembangan komoditas hortikultura dan tanaman pangan, DPKP Kalsel juga memanfaatkan lahan milik pemerintah provinsi di kawasan Bukit Merangkul (eks kawasan sport Center). Di lokasi tersebut dikembangkan berbagai komoditas, seperti bawang merah, cabai besar, cabai rawit, durian, serta komoditas tanaman pangan seperti jagung, singkong, kacang tanah, dan aneka sayuran.

“Untuk hortikultura, perkembangan cabai, bawang merah, dan durian di Bukit Merangkul cukup bagus yang pasti lahan di Bukit merangkul sangat cocok untuk dikembangkan menjadi kahan pertanian. Durian bahkan sudah ada yang tumbuh besar, sehingga kami dorong pengembangannya lebih lanjut,” ungkap Amir.

Ia menambahkan, pengembangan hortikultura di Kalsel tidak hanya terbatas pada bantuan pemerintah, tetapi juga terus didorong melalui swadaya masyarakat. Berbagai komoditas sayur dan buah tetap dikembangkan secara mandiri oleh kelompok tani di sejumlah daerah.

Terkait sebaran komoditas buah, Amir menyebutkan bahwa durian dominan dikembangkan di Kabupaten Banjar, Tanah Laut, dan sebagian di kabupaten HST dan Tabalong, sementara pisang disalurkan sesuai permohonan kabupaten/kota setelah melalui proses verifikasi terhadap kelompok kelompok tani pemohon.

Adapun untuk komoditas jeruk, DPKP Kalsel terus berupaya mempertahankan produksi di tengah menurunnya dukungan pendanaan dari pemerintah pusat sejak 2023.

“Jeruk menjadi perhatian karena pengembangan jeruk sangat didukung oleh dana APBN namun sejak 3 (tiga) tahun terakhir sudah tidak ada lagi jadi hanya mengandalkan dukungan dana APBD, produktivitas jeruk, khususnya di Kabupaten Barito Kuala dan Kabupaten Banjar, mulai menurun. Ini yang terus kami antisipasi ke depan,” pungkasnya. MC Kalsel/tgh

Berita Terkait

BMKG Syamsudin Noor Rilis Prospek Cuaca Mingguan Kalsel 4–10 Februari 2026
Dorong Budaya Literasi, Dispersip Kalsel Rutin Rekomendasikan Buku Mingguan
Disperkim Kalsel Prioritaskan RTLH Korban Bencana, Sasar 313 Unit di Tahun 2026
Lima Tahun Berinovasi, RSUD Ansari Saleh Kalsel Konsisten Tingkatkan Kualitas Layanan
Desember 2025, Jumlah Penumpang Berangkat Melalui Bandara Sebesar 139.775
Awal Tahun 2026 Naik 6,97 Persen, BPS Kalsel Rilis Ekspor Barang Asal Kalsel Capai US$996,76 juta
2026, BPS Kalsel Catat IHK Terjadi Kenaikan Dari 106,33 Menjadi 111,28
Dukung Tumbuh Kembang Optimal Sejak Dini, Puskesmas Banjarbaru Selatan Pilih PAUD Citra Indonesia Jadi Lokasi Kegiatan Kesehatan Anak

Berita Terkait

Selasa, 3 Februari 2026 - 09:44 WIB

BMKG Syamsudin Noor Rilis Prospek Cuaca Mingguan Kalsel 4–10 Februari 2026

Selasa, 3 Februari 2026 - 09:42 WIB

Dorong Budaya Literasi, Dispersip Kalsel Rutin Rekomendasikan Buku Mingguan

Selasa, 3 Februari 2026 - 09:28 WIB

Program Hortikultura 2026, DPKP Kalsel Fokus Komoditas Pengendali Inflasi

Selasa, 3 Februari 2026 - 09:26 WIB

Disperkim Kalsel Prioritaskan RTLH Korban Bencana, Sasar 313 Unit di Tahun 2026

Selasa, 3 Februari 2026 - 02:59 WIB

Desember 2025, Jumlah Penumpang Berangkat Melalui Bandara Sebesar 139.775

Berita Terbaru

Adv Tanah Bumbu

Bupati Andi Rudi Latif Ikuti Rakornas 2026 Pemerintah Pusat dan Daerah

Selasa, 3 Feb 2026 - 10:03 WIB