


Badan Pengelola Meratus UNESCO Global Geopark (UGGp) terus memperkuat upaya pelestarian kawasan melalui kegiatan monitoring keanekaragaman hayati di Situs Goa Batu Hapu, Kabupaten Tapin, Kamis (9/7/2026).
Monitoring yang dilaksanakan oleh tim Badan Pengelola Geopark Meratus tersebut berhasil mengidentifikasi sedikitnya tiga spesies kelelawar yang menjadikan kawasan gua sebagai habitat alaminya.
Kegiatan monitoring dilakukan oleh Biologist Badan Pengelola Geopark Meratus, Ramadhan Jayusman, bersama Andry Fredly dari Bidang Publikasi dan Dokumentasi Badan Pengelola Meratus UNESCO Global Geopark, didampingi pengelola Situs Goa Batu Hapu, Subianto dan Hendri.
Hasil identifikasi awal menemukan tiga spesies kelelawar, yakni Hipposideros larvatus, Taphozous melanopogon, dan Taphozous longimanus. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa Goa Batu Hapu tidak hanya memiliki nilai penting sebagai warisan geologi, tetapi juga menjadi habitat yang mendukung keberlangsungan berbagai jenis satwa liar.
Biologist Badan Pengelola Geopark Meratus, Ramadhan Jayusman, mengatakan bahwa monitoring ini merupakan langkah awal untuk mendokumentasikan kekayaan biodiversitas yang dimiliki kawasan Goa Batu Hapu.
“Monitoring yang kami lakukan berhasil mengidentifikasi tiga jenis kelelawar yang memanfaatkan Goa Batu Hapu sebagai habitatnya. Temuan ini menunjukkan bahwa kawasan tersebut memiliki nilai ekologis yang tinggi, namun kami meyakini masih terdapat spesies lain yang belum terdokumentasikan sehingga penelitian lanjutan sangat diperlukan,” ujarnya.
Ramadhan menjelaskan, penelitian yang lebih komprehensif diperlukan karena aktivitas kelelawar sangat dipengaruhi oleh waktu pengamatan, musim, serta karakter habitat gua.
“Penelitian lanjutan dengan durasi pengamatan yang lebih panjang dan metode identifikasi yang lebih mendalam akan memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai komposisi spesies, kondisi populasi, pola aktivitas, hingga fungsi ekologis kelelawar di Goa Batu Hapu. Data tersebut sangat penting sebagai dasar pengelolaan kawasan secara ilmiah,” tambahnya.
Ia menerangkan, masing-masing spesies memiliki karakteristik ekologis yang berbeda. Hipposideros larvatus dikenal memiliki struktur daun hidung (noseleaf) yang membantu proses ekolokasi saat berburu serangga, sementara Taphozous melanopogon memiliki rambut gelap menyerupai janggut pada bagian dagu dan tenggorokan serta memanfaatkan gua sebagai tempat beristirahat. Adapun Taphozous longimanus memiliki sayap yang relatif panjang sehingga mampu terbang secara efisien saat mencari makan maupun berpindah habitat.
Sementara itu, Geologist Badan Pengelola Meratus UNESCO Global Geopark, Aditya Rathomy, menjelaskan bahwa kondisi geologi Goa Batu Hapu menjadi salah satu faktor utama yang mendukung keberadaan berbagai spesies kelelawar.
“Goa Batu Hapu memiliki tingkat kelembapan yang relatif stabil dengan kondisi lingkungan yang masih alami. Keberadaan ornamen stalaktit dan stalagmit yang terjaga menciptakan habitat yang sesuai bagi kelelawar untuk beristirahat, berkembang biak, dan menjalankan siklus hidupnya,” jelas Aditya.
Menurutnya, karakteristik bentang alam karst yang dimiliki Goa Batu Hapu menjadikan kawasan tersebut memiliki nilai geologi sekaligus fungsi ekologis yang saling berkaitan.
“Ekosistem gua pada kawasan karst tidak hanya menyimpan informasi geologi yang bernilai ilmiah, tetapi juga menyediakan ruang hidup bagi berbagai satwa. Oleh karena itu, perlindungan terhadap kondisi alami gua menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem serta keberlanjutan fungsi kawasan geopark,” katanya.
Dari sisi kebijakan perlindungan kawasan, Kepala Seksi Warisan Geologi dan Air Tanah Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kalimantan Selatan, Sumarmiati, menegaskan pentingnya penguatan perlindungan bentang alam karst sebagai bagian dari upaya konservasi jangka panjang.
“Integrasi warisan geologi ke dalam instrumen perlindungan tata ruang, seperti Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK), merupakan langkah strategis untuk memastikan keberlanjutan pengelolaan kawasan yang memiliki nilai geologi sekaligus fungsi ekologis,” ungkap Sumarmiati.
Ia menjelaskan, inventarisasi dan identifikasi kawasan karst yang telah dilakukan pada tahun 2024 menjadi landasan penting dalam mendukung usulan penetapan KBAK sesuai Peraturan Menteri ESDM Nomor 17 Tahun 2012.
“Melalui inventarisasi tersebut, kita dapat mengetahui karakteristik kawasan, baik dari aspek eksokarst maupun endokarst, sehingga perlindungan kawasan dapat dilakukan secara tepat berdasarkan nilai ilmiah, fungsi hidrologi, dan potensi keanekaragaman hayatinya,” tambahnya.
Menurut Sumarmiati, kawasan bentang alam karst memiliki fungsi strategis sebagai kawasan lindung geologi yang berperan menjaga sistem tata air, penyimpanan air tanah, sekaligus menjadi habitat berbagai spesies yang bergantung pada ekosistem gua.
Menanggapi hasil monitoring tersebut, Wakil Ketua Harian Badan Pengelola Meratus UNESCO Global Geopark, Theodorik Rizal Manik, menyampaikan apresiasi kepada seluruh tim yang telah melakukan kajian lapangan sebagai bagian dari penguatan basis data ilmiah pengelolaan kawasan.
“Kami mengapresiasi pelaksanaan monitoring yang dilakukan di Goa Batu Hapu karena menjadi langkah penting dalam memperkaya data ilmiah mengenai keanekaragaman hayati yang dimiliki Meratus UNESCO Global Geopark. Informasi seperti ini sangat diperlukan untuk mendukung pengelolaan kawasan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Menurut Theodorik, hasil penelitian tersebut tidak hanya bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi dasar dalam menyusun kebijakan konservasi dan pengembangan kawasan wisata yang berwawasan lingkungan.
“Kelelawar memiliki peran penting sebagai pengendali populasi serangga, penyebar biji, sekaligus indikator kesehatan lingkungan. Oleh sebab itu, hasil penelitian lanjutan nantinya akan menjadi referensi dalam penyusunan rekomendasi pengelolaan kawasan, edukasi konservasi, serta pengaturan aktivitas wisata agar pelestarian alam dan pemanfaatan kawasan dapat berjalan secara seimbang,” jelasnya.
Ia menambahkan, Goa Batu Hapu merupakan salah satu situs penting di Meratus UNESCO Global Geopark yang memiliki nilai geologi, biodiversitas, pendidikan, konservasi, hingga potensi geowisata. Karena itu, pengelolaannya memerlukan dukungan berbagai pihak melalui kolaborasi, penelitian berkelanjutan, serta pemanfaatan data ilmiah sebagai dasar pengambilan kebijakan.
Melalui monitoring dan penelitian lanjutan yang akan terus dilakukan, Badan Pengelola Meratus UNESCO Global Geopark berharap informasi mengenai keanekaragaman kelelawar di Goa Batu Hapu dapat semakin lengkap. Data tersebut diharapkan menjadi dasar dalam memperkuat upaya konservasi, mendukung perlindungan kawasan karst, serta meningkatkan kualitas pengelolaan situs sebagai bagian dari warisan alam Meratus UNESCO Global Geopark yang diakui dunia. MC Kalsel/dam












